Anda dapat mengirimkan konten ataupun berita yang ingin anda tayangkan di situs PPHP. Berita ataupun konten yang anda kirimkan akan kami periksa terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Silahkan login melalui form di bawah ini atau registrasi jika belum menjadi anggota dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.
×Silahkan isi form di bawah ini dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.
×Pengunjung yang terhormat, Pengiriman berita/konten ke situs PPHP diharapkan dan diharuskan memenuhi persetujuan yang ada seperti dibawah ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan juga untuk menjaga keakuratan data yang nantinya akan tersimpan di situs ini. Adapun beberapa point yang harus diperhatikan antara lain:
Saya setuju, lanjutkan ke pendaftaran atau login
×
Pengawalan Penerapan Pasca Panen Karet , tanggal 17-20 Mei 2009, di Balai Penelitian Karet-Sembawa, Sumatera Selatan yang dihadiri oleh 35 orang peserta terdiri dari supervisor, site manager, petugas pembina dari 2 propinsi (Prop. Sumsel dan Jambi) dan 10 Kabupaten ((Kabupaten Sijunjung, Batanghari, Muaro Jambi, Sarolangun, Tebo, Muara Eenim, Ogan Komering Ilir, Prabumulih, Lubuk Linggau, Ogan Ilir) yang mendapatakan Dana TP. Tahun 2009 serta petani dan pedagang pengumpul dari Kab. Ogan Ilir.
Beberapa hal yang dapat dicatata pada kegiatan tersebut adalah :
| 1 |
Kebijakan pengembangan Bokar di Provinsi Sumatera Selatan mengacu kepada Peraturan Mentan No 38/2008 Tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bokar. |
|
| 2 |
Permasalahan karet yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan sehingga perkembangannya dirasa masih belum optimal adalah : |
|
| a |
Keterbatasan dukungan sarana dan prasana produksi (perbenihan, proteksi, pengolahan dll) |
|
| b |
Keterbatasan modal usaha |
|
| c |
Kesejahteraan dan taraf hidup rendah sehingga petani menjual produk seadanya bahkan mencampur dengan benda-benda lain dengan tujuan menambah berat. |
|
| d |
Produktivitas dan mutu produk masih rendah. Produktivitas yang rendah disebabkan banyaknya tanaman karet yang sudah tua dan rusak sehingga perlu peremajaan sedangkan mutu produk rendah disebabkan masih banyak pencampuran dengan benda-benda lain seperti kayu, tatal, pasir dll dan penggunaan bahan pembeku (koagulan) yang tidak direkomendasikan (seperti cuka para, tawas, pupuk dll.) |
|
| 3 |
Disadari bahwa kualitas Bokar petani masih rendah, oleh karena itu upaya pembinaan, bimbingan dan pendampingan selain untuk memberikan petunjuk teknis juga memberikan motivasi agar menghasilkan Bokar yang berkualitas baik. Perbaikan mutu Bokar di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi sangat mempengaruhi mutu karet nasional yang dihasilkan karena 2 provinsi ini merupakan penghasil utama karet di Indonesia. |
|
| 4 |
SNI yang ditetapkan pemerintah tidak sepenuhnya dapat diterapkan di tingkat petani hal ini disebabkan tidak ada perbedaan harga yang signifikan antara Bokar kualitas baik dan yang kurang baik, selain itu penerapan SNI kurang efektif karena tidak ada sanksi bagi stakeholder yang tidak menerapkan SNI. Untuk mengatasi hal tersebut Gapkindo mempunyai standar sendiri dalam menentukan kelas mutu, aspek yang dinilai yaitu jenis dan luas kontaminan serta bahan pembeku (koagulan) yang digunakan tetapi tidak mensyaratkan ketebalan Bokar yang dihasilkan. |
|
| 5 |
Asap cair merupakan salah satu jenis koagulan yang direkomendasikan untuk digunakan. Penggunaan asap cair sebagai koagulan walaupun mengurangi berat tetapi meningkatkan Kadar Karet Kering (K3) yang pada akhirnya akan meningkatkan harga jual. Akan tetapi dengan adanya pengurangan berat ini menyebabkan petani kurang memilih asap cair sebagai koagulan. |
|
| 6 |
Dalam pelatihan ini peserta melakukan praktek penyadapan karet di Kebun Balai Penelitian Sembawa dan aplikasi stimulan dengan menggunakan ethrel untuk merangsang keluarnya lateks. Aplikasi stimulan ini dapat dilakukan dengan cara mengoleskan ethrel ke permukaan bidang sadap atau dengan cara infus |
|
| 7 |
Keberadaan hummermill disinyalir menyebabkan sulitnya membuat Bokar bersih, karena meskipun Bokar kotor tetap dapat diterima karena dapat dibersihkan dengan mesin hummermill yang dimiliki oleh pabrik Crumb Rubber. Oleh sebab itu beberapa pendapat mengatakan bahwa bokar bersih dapat dihasilkan oleh petani jika hammermill dihilangkan dari pabrik Crumb Rubber. Akan tetapi pabrik Crumb Rubber kurang setuju, karena keberadaan alat hummermil di pabrik pengolahan karet remah tidak hanya berfungsi untuk menghilangkan kotoran dari bahan olah karet tapi juga berfungsi sebagai alat homogenisasi sehingga karet remah yang diproduksi sesuai dengan keinginan konsumen. |
|
| 8 |
Kunjungan lapang ke PT Badja Baru dilakukan untuk melengkapi dan menambah wawasan peserta pelatihan tentang pengolahan karet remah (crumb rubber). Melalui kunjungan lapang ini para peserta diperlihatkan proses produksi karet remah dari mulai penerimaan bahan baku sampai pada pengepakan. |
|
| 9 |
Pengembangan pasar karet alam dalam negeri mengalami kendala disebabkan karena industri pengolah karet dalam negeri belum berkembang, industri rumah tangga produk karet (menengah dan kecil) belum berkembang serta pemerintah belum mendorong investasi industri manufacture karet di Indonesia. |
|
| 10 |
Untuk memperkuat ketahanan perkebunan karet rakyat, perlu insentif pemerintah agar industri manufaktur karet tertarik masuk Indonesia (bebas pajak, izin pendirian pabrik, kemudahan izin pembebasan tanah). Selain itu pemerintah harus mengembangkan industri Rumah Tangga produk karet, berupa diantaranya berupa insentif modal kerja, bunga rendah dan akses pasar kerajinan karet. |
|
| 11 |
Dalam Pemaparan Materi Rencana Kerja Supervisor dan Site Manager dijelaskan kembali tugas dan fungsi supervisor dan site manager dalam pelakasanaan Tugas Dana Pembantuan TA 2009 dimana supervisor dan site manager diharapkan dapat memberikan bimbingan kepada petani dalam hal Teknis Penanganan Pasca Panen, pengembangan mutu dan kelembagaan, akses permodalan, pengembangan unit usaha, serta akses pemasaran. Perkembangan kegiatan secara periodik dilaporkan ke Subdit Pasca Panen Perkebunan. |
|