Anda dapat mengirimkan konten ataupun berita yang ingin anda tayangkan di situs PPHP. Berita ataupun konten yang anda kirimkan akan kami periksa terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Silahkan login melalui form di bawah ini atau registrasi jika belum menjadi anggota dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.
×Silahkan isi form di bawah ini dengan mengisi data anda dengan lengkap. Pastikan kotak isian yang bertanda (*) terisi dengan benar. Dengan mengirimkan berita/content kepada PPHP berarti anda sudah membaca dan menyetujui persetujuan untuk menjadi kontributor.
×Pengunjung yang terhormat, Pengiriman berita/konten ke situs PPHP diharapkan dan diharuskan memenuhi persetujuan yang ada seperti dibawah ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan juga untuk menjaga keakuratan data yang nantinya akan tersimpan di situs ini. Adapun beberapa point yang harus diperhatikan antara lain:
Saya setuju, lanjutkan ke pendaftaran atau login
×
Denpasar/Sudah saatnya negara-negara ASEAN penghasil kopi merumuskan standar sertifikasinya sendiri, tidak lagi menggantungkan standar sertifikasi yang diterapkan oleh negara-negara importir kopi dunia demikian disampaikan Plt, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Banun Harpini di Bali dalam acara ASEAN International Seminar On Coffee di Inna Kuta Beach Hotel, Bali (12/6). Menurut Banun, dengan adanya sertifikasi yang dikeluarkan negera produsen, akan mampu meningkatkan daya saing di pasar Global.
Ketua Umum Gabungan Eksportir Kopi Indonesia Hutama Sugandhi menambahkan, jika masalah sertifikasi kopi hanya dilihat dari sisi kepentingan negara importir, ini akan sangat merugikan petani kopi, untuk itu sistem sertifikasi negara ASEAN segera dirumuskan dan disosialisasikan di negara-negara importir Kopi Dunia.
Sementara itu Direktur Pemasaran Internasional, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Mesakh Tarigan mengatakan sudah ada indikasi positif dari negera-negara importir kopi dunia untuk duduk bersama merumuskan sertifikasi yang mampu mengakomodir kepentingan Produsen maupun Konsumen.
Pertemuan ASEAN Seminar International on Coffee yang berlangsung selama 4 empat hari (12-15 Juni 2012) dan dihadiri oleh 100 peserta yang berasal dari perwakilan negara-negara Asean, Indonesia, Vietnam, Thailand, Laos dan Malaysia diharapkan mampu menghasilkan suatu kesepakatan tentang rumusan sertifikasi kopi..
Langkah konkrit yang diperlukan saat ini adalah adanya kesepahaman dan harmonisasi indikator-indikator sertifikasi yang akan dianut di negara-negara ASEAN. “Negara-negara ASEAN di dalam forum ASEAN Focal Point Working Group on Coffee perlu membentuk komite yang berfungsi merumuskan standar sertifikasi, mengawasi, mengimplementasikan,serta mempromosikan untuk diadopsi oleh negara-negara konsumen, demikian disampaikan Ketua Kelompok Peneliti Pasca Panen Puslitkoka, Misnawi.(hn/)